Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Saturday, May 28, 2011

Bibik Jawab Telefon.....

Telefon pertama
Penelefon (X) : Helloooo…. Apakah ini kediaman En Harun Salim Bachik..??
Bibik (Y) : Maaf Salah nombor..ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud…

Telefon ke -2
Penelefon (X) : Helloooo……Apakah ini kediaman En Harun Salim Bachik..??
Bibik (Y) : Maaf, salah dail ni, encik..!! ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud. (jawabnya kesal)

Telefon ke -3
Penelefon (X) : Helloooo….
Bibik (Y) : Eeeh..Lagi2 kamu!!.. Awas ya!! Walau saya cuma pembantu, tapi saya bisa laporin kamu ke polisi..!! (marah sangat dah ni!)
Penelefon (X) : Apakah ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud..??
Bibik (Y) : Aduuuh.. maaf2 yaaa…, tadi soalnya ada beberapa kali salah sambung. Mau cari siapa tuan.??
Penelefon (X) : Harun Salim Bachik….
Bibik (Y) : ??!!@#@$!! (sambil usap2 dada)

Telefon ke -4
Penelefon (X) : Helloooo…..
Bibik (Y) : Kurang ajaaar..!!! Kamu punya nyawanya berapa hah!!!
Penelefon (X) : Saya Syed Mahmud…..
Bibik (Y) : Aduh..!!! Maaf tuan! sorry sekali, tadi ada orang gila telpon! ada perintah apa tuan.??
Penelefon (X) : Segera panggil En Harun Salim Bachik..!!
Bibik (Y) : Hah..!…. (pengsan)

Selepas 10 minit kemudian setelah tersedar dari pengsan,

Telefon ke -5
Penelefon (Z) : Hallooooo….. (suara berbeza berbanding panggilan2 terdahulu)
Bibik (Y) : (Oh ini suaranya lain…). Mau cari siapa tuan..??
Penelefon (Z) : Ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud??
Bibik (Y) : Iya betul….
Penelefon (Z) : Saya Harun Salim Bachik… , tadi ada orang cari saya???
Bibik (Y) : ??@#$%^??… (terkejang!)

Wednesday, December 15, 2010

Belajar Dari Sebatang Pencil

Untuk menjadi besar maka kita harus belajar dari hal-hal kecil. Terkadang dunia di sekitar kita memberi banyak makna untuk kita jadi sebagai tempat belajar untuk memaknai hidup dan kehidupan.

Pencil, sering sekali kita lihat dan gunakan. Pada umumnya pencil kita gunakan untuk menulis dan melakarkan sesuatu. Melakar maupun menulis dengan menggunakan pencil ada keuntungan tersendiri dibanding dengan pen, kerena apabila ada kesalahan maka dengan mudah kita dapat menghapus goresan yang telah kita buat pada kertas.

Disamping itu, pencil juga mempnyai makna tersendiri, seperti apa yang di ceritakan dibawah ini :

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. 
"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai." "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi. 

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua bergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualiti yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualiti dari sebuah pensil. 

"Kualiti pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebatang pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya". 

"Kualiti kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, kerana merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik". 

"Kualiti ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualiti keempat, bahagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bahagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyedari hal-hal di dalam dirimu". 

"Kualiti kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sedar walau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sedar terhadap semua tindakanmu".
Dipetik dari Kitab2 Lama...

Friday, December 10, 2010

RESIKO HIDUP HARUS DIHADAPI.

Resiko Hidup seperti apa yang harus kita hadapi? Kenapa kata Resiko Hidup begitu mengerikan bagi kalangan tertentu. Sebab sebuah kondisi hidup yang mengandung resiko, di dalam fikiran sebagian orang, itu adalah kondisi yang sangat mengerikan. Resiko Hidup tersebut bisa mengakibatkan malapetaka yang teramat hebat bagi kelangsungan hidup selanjutnya.

Padahal sebenarnya hidup ini senantiasa dilingkari oleh segenap resiko. Hanya saja selama ini sebagian orang tidak menyadarinya. Karena dimata mereka, resiko hanyalah sebuah Situasi-Akibat. Situasi yang extrim, mengerikan dan perlu dijauhi, bahkan sejauh-jauhnya. Segitu menakutkannya resiko, sampai-sampai kata resiko identik dengan akibat fatal yang hanya bermakna negatif.

Banyak orang ingin merasakan kesenangan hidup dan menggapai kesuksesan. Namun enggan menerima segala resikonya. Baginya kesenangan hidup bisa diperoleh dengan berbagai cara, asal tidak mengandung resiko hidup yang mengerikan itu. Maka tak jarang mereka menggunakan cara-cara yang menyimpang. Sebagai fakta sosial, tindakan korup serta kejahatan sosial terus meningkat, meraja-lela dimana-mana. Rasa aman sudah menjadi barang langka sekarang ini. Suap-menyuap sudah membudaya dan menjadi aktifitas yang menyenangkan.

Kondisi seperti itu hanyalah sebagian kecil prespektif lain dari ketakutan seseorang untuk mengambil sebuah resiko hidup. Padahal jika di fikir-fikir, tindakan-tindakan menyimpang tersebut, mengandung resiko yang sangat luar biasa. Melebihi resiko hidup sesungguhnya, yang selama ini mereka takutkan. Korupsi, suap-menyuap, rampok, jembret dan lain sebagainya, resikonya hukuman penjara / hukuman mati bahkan pengasingan sosial. Kalaupun lolos, hidupnya tidak tentram, selalu gundah dan tidak teratur.

Namun kenapa toh jalur seperti itu tetap saja menjadi pilihan hidup. Cari kerja susah, makan susah, terpaksa dan lain-lain selalu menjadi alasan klasik yang melegalkan tindakannya. Hal ini tak lain berkaitan dengan penyakit atau virus mental yang telah membelenggu dirinya selama ini.

Didalam kehidupan ini sering sekali kita dihadapkan oleh berbagai pilihan hidup. Dan pilihan-pilihan tersebut terkadang membuat kita bingung, gentar, ragu-ragu yang semua itu sangat mempengaruhi masa depan kita.
Disinilah letak kekuatan diri seseorang. Kekuatan untuk memilih Ketika ia dihadapkan oleh beberapa pilihan. Mana pilihan yang paling ideal serta mampu kita lakukan.

Dalam situasi seperti itu, terkadang kita lupa tips menentukan jalan hidup. Saya, anda dan juga sebagian yang lainnya, masih terbiasa melihat unsur kesulitannya saja. Tidak melihat dari unsur kebaikannya.
Perumpamaannya seperti ini:

jika anda melihat sebuah gunung, anda tidak akan pernah tahu obyek apa yang berada dibalik gunung tersebut. karena pandangan anda terhalang oleh gunung.

Nah gunung itu adalah mental anda sedangkan obyek dibalik gunung itu adalah keinginan anda. karena selama ini anda selalu terhalang oleh mental anda, maka keinginan anda tidak akan pernah tercapai.

Selama ini Anda hanya melihat gunung yang tinggi dan sulit, bahkan sangat beresiko untuk di raih, anda tidak pernah melihat keinginan anda yang berada dibalik gunung itu.

Rekan-rekan, jika anda ingin menikmati kehidupan yang anda inginkan, maka resiko hidup mutlak anda hadapi. Jika anda tetap enggan menerima segala konsukuensi dari pilihan hidup anda, maka JANGAN menuntut banyak atas perubahan hidup yang ideal menurut ukuran anda.

Namun saya berharap artikel ini memberi dampak yang luar biasa bagi kemajuan mental siapa saja yang membacanya. Oleh karena itu, saya berteriak kepada anda! mari kita sama-sama, dakilah gunung itu! Mari kita raih obyek dibalik gunung itu. Sebab segala pilihan hidup yang sudah kita tetapkan, Tentu mengandung resiko yang setimpal. Namun dibalik keberanian kita menerima resiko itu, ada hadiah yang telah menanti kita. yaitu impian hidup yang sangat kita idam-idamkan.

Wednesday, October 20, 2010

Cara Peguam

MOSTI sedang mencari angkasawan utk dihantar ke marikh. Walaubagaimanapun, mereka hanya boleh pergi sahaja, dan tidak akan pulang ke bumi.

Calon pertama, seorg engineer di tanya berapa banyak wang yg dia mahu."Sejuta" jawapnye "Saya nak sumbangkan utk anak-anak yatim."

Calon seterusnya adalah seorg doktor. Dia juga di tanya soalan yg serupa. Dia menjawap, dua juta ringgit. "Sejuta saya nak bagi kat family saya. Yg sejuta lagi saya nak derma utk buat research dan experiment."

Calon terakhir adalah seorg peguam. Bile ditanya berapa banyak yg dia mahukan, dia berbisik ke telinga panel temuduga, "3 juta ringgit."

"Kenapa lagi banyak dari yg lagi dua calon?" penemuduga bertanya.

Peguam itu menjawap, "Kamu bagi saya 3 juta. Saya bagi kamu sejuta, Sejuta saya amik. Kemudian yg sejuta lagi tu, kita guna utk hantar engineer tu ke marikh"

SEKADAR HIBURAN.

Tuesday, September 21, 2010

Kisah dua ekor katak yang jatuh ke dalam satu tempayan susu lembu segar. Dinding-dinding tempayan itu licin dan curam mankala susu lembu di dalamnya begitu dalam dan sejuk.

”Alamak bagaimana ni?” kata katak yang pertama. ”Ini takdir, tidak ada orang yang akan menolong kita. Selamat tinggal, sahabatku! Selamat tinggal dunia yang menyedihkan!” katanya lagi sambil menangis dan akhirnya dia pun tenggelam.

Tetapi, katak yang kedua itu terus mengayuhkan kakinya dan mula berenang. Sesekali dia berhenti bagi menyapu mukanya dan mengeringkan matanya yang penuh dengan susu itu.

”Biarlah aku berenang sekejap. Tidak ada gunanya sekiranya seekor lagi katak mati”.

Jadi, si katak pun terus berenang. Selama beberapa jam dia menendang dan berenang, tidak sekalipun dia mengeluh. Kayuhan kaki katak yang tidak berhenti-henti itu akhirnya membuatkan susu lembu di dalam tempayan itu menjadi keras. Selepas susu berubah menjadi mentega, katak itu pun melompat keluar daripada tempayan dan berjaya menyelamatkan dirinya.

Satu perkara yang membezakan dua ekor katak tadi adalah cara mereka melihat keadaan dunia di sekeliling mereka dan bagaimana mereka bertindak terhadap dugaan dan cabaran yang dihadapi.  

Sunday, September 5, 2010

Dilema Politik Malaysia - Katak Dalam Rumah Kaca


Dalam 2 bulan yang  lepas senario politik sedunia amat meriah dan menarik sekali. Di celah-celah dunia digemparkan dengan peristiwa ledakan gunung berapi di Iceland yang walaupun tidak mengorbankan satupun nyawa tetapi mendatangkan kemudaratan kepada alam sekitar serta menyebabkan ramai orang terkandas di banyak lapangan terbang seluruh dunia.

Sebagaimana menggelegaknya isi perut bumi dengan beberapa siri ledakan gunung berapi serta gempa bumi, begitu juga di atas permukaan bumi dengan berbagai-bagai peristiwa dan gelagat makhluk bernama manusia.
Peristiwa yang agak menarik berlaku di Britain dan Thailand, dua buah negara yang mengamalkan demokrasi dengan sistem Parlimen dan Raja Berperlembagaan yang boleh menjadi penunjuk kepada keadan kecelaruan politik di Malaysia.

Sebagaimana yang kita sedia maklum, sekarang ini peristiwa yang berlaku di seluruh dunia bagaikan berlaku di sebelah kita saja. Ini adalah berkat kehebatan ledakan era telekomunikasi serba canggih yang melapurkan pelbagai bentuk berita selama 24 jam sehari tanpa henti.

Seperti mana berputarnya bumi di atas paksinya begitulah juga peristiwa yang berlaku yang dilapurkan oleh media massa dan media lain termasuk internet, twitter, facebook, sms dan lain-lain.

Dalam banyak-banyak peristiwa yang dilapurkan ada beberapa peristiwa yang menarik perhatian kita yang boleh dijadikan panduan serta pengajaran kepada halatuju politik tanah air.

Pertama adalah mengenai pilihanraya Britain yang berlaku yang mendapat perhatian dunia terutama negara-negara 'Commonwealth' yang mana struktur politik masing-masing mendapat inspirasi darinya termasuk Malaysia.

Kerajaan campuran yang terbentuk antara Parti Konservatif pimpinan David Cameron yang memenangi pilihanraya tanpa mendapat majoriti mutlak, dengan Parti Liberal Demokrat pimpinan Nick Clegg iaitu parti yang mendapat tempat ketiga jauh di bawah Parti Buruh pimpinan bekas Perdana Menteri Gordon Brown.

Ini menunjukkan bahawa dalam sesuatu pilihanraya umum, keputusan yang diputuskankan oleh rakyat tidak semestinya memihak secara mutlak kepada parti politik pemerintah.

Apa pun boleh berlaku termasuk yang mengejutkan rakyat dan yang tidak disangka-sangka, tidak mustahil boleh berlaku.

Yang menarik perhatian adalah semua ini berlaku dalam suasana amat bertamadun, dengan perbincangan demi perbincangan, manipulasi serta percaturan politik dan semuanya menurut perlembagaan, undang-undang serta mendapat restu pehak istana Britain.

Dan yang lebih menarik lagi adalah terbentuknya sebuah kerajaan campuran antara dua parti yang sebelum ini memusuhi antara satu sama lain dengan ideologi yang jauh berbeza.

Kerajaan campuran ini adalah yang pertama semenjak perang dunia kedua yang tercatit di dalam sejarah politik moden.

Kedua-dua pemimpin ini sanggup mengenepikan berbezaan ideologi mereka demi kestabilan negara dan kemakmuran Britain. Dibuktikan bahawa kekuatan negara adalah lebih penting dari kekuatan parti dan peribadi, satu sifat unggul tetapi masih belum terbukti keampuhan dan ketahanannya lagi.

Tanpa mengambil masa yang lama, kuasa-kuasa besar dunia termasuk Amerika Syarikat dan China terus mengiktiraf kerajaan campuran yang baru terbentuk dan suasana seharian politik dunia terus berjalan seperti sedia kala.

Di sebelah Asia Tenggara pula lain jadinya. Sebuah kerajaan berparlimen dan Raja Berperlembagaan yang agar besar iaitu Thailand pula masih tidak dapat keluar dari kemelut politik mereka.

Secara ringkasnya, kekalutan ini bermula lebih empat tahun lalu apabila Taksin Shinawatra yang telah memenangi pilihanraya secara demokrasi telah digulingkan pada tahun 2006.

Penggulingan ini berlaku dengan kuasa tentera yang bergabung dengan kumpulan elit Thai (kumpulan baju kuning) yang bimbang akan pengaruh Taksin yang meningkat dengan mendadak dan polisinya yang banyak membantu orang-orang miskin dan petani Thai yang dilihat adalah sebagai perisai politik yang dibentuk oleh Taksin sendiri.

Ramai orang tahu bahawa Taksin yang merupakan seorang 'bilionair' boleh melakukan apa sahaja demi kekayaan peribadi termasuk menjual saham syarikat telekomunikasi Thailand kepada satu syarikat telekomunikasi Singapura.

Setelah melarikan diri selepas digulingkan, beliau dengan dibantu oleh konco-konco beliau di dalam negeri segera membentuk 'People Power Party' (PPP) yang telah menang besar pada pilihanraya tahun 2007.

Walaubagaimanapun Parti PPP telah di bubarkan apabila Mahkamah Agong Thai memutuskan ianya tidak mengikut perlembagaan.

Dengan keputusan itu Parlimen Thailand telah melantik pemimpin Parti Demokratik yang kalah pilihanraya iaitu Abhisit Vejjajiva sebagai Perdana Menteri.

Taksin yang masih tidak berpuas hati telah segera membentuk kumpulan baju merah dengan gabungan penyokong setianya dan rakyat miskin dan petani Thai.

Ada berita angin juga mengatakan bahawa pegawai rendah tentera Thai juga bersama-sama dalam kumpulan ini.

Tujuan utama kumpulan ini dibentuk adalah untuk memberi tekanan kepada kerajaan Abhisit yang dianggap, terbentuk tanpa mandat rakyat melalui pilihanraya.

Abhisit yang pada mulanya mahu berunding telah menunjukkan belangnya dengan mengarahkan askar bertindak keras terhadap kumpulan baju merah tersebut.

Dengan kekerasan dilawan kekerasan ada tanda-tanda bahawa satu perang saudara akan meletus jika tindakan tidak diambil untuk membawa kedua-dua kumpulan ini ke meja rundingan.

Kedua-dua peristiwa ini sengaja dibawa dan dibentangkan secara terperinci di sini untuk pembaca menilai, menimbang seterusnya mengambil apa jua pelajaran serta pengajaran akan apa yang boleh berlaku apabila kuasa politik tidak diseimbangkan dengan kuasa undi dari rakyat.

Di Malaysia selama sejak kemerdekaan sehingga beberapa tahun terdahulu kita telah menikmati satu keadaan agak tenteram, di mana kita telah ditadbir urus secara seimbang, adil dan progresif.

Parti Perikatan dengan diwakili oleh UMNO, MCA dan MIC telah memerintah agak lama sehingga tahun 60'an.

Kemudian dengan kemasukan parti-parti yang menyokong ideologinya dan dengan masuknya Sabah dan Sarawak untuk membentuk Malaysia maka terbentuklah parti Barisan Nasional.

Siapakah yang telah mendidik anak bangsa sehingga ke satu tahap di mana kita berada sekarang? Anak Malaysia telah sampai ke angkasa, juga telah mengelilingi dunia secara solo.

Kita juga telah sampai ke puncak gunung Everest. Kalau nak disenaraikan pencapaian kita satu persatu memang agak mustahil tetapi hakikatnya tiada siapa yang boleh menafikan dan tiada siapa jua yang boleh merampas hak kepada fakta yang 'sudah terang lagi bersuluh' ini tentang siapa yang bertanggungjawab memungkinkan ini semua boleh terjadi.

Masalah yang selalu timbul tanpa kita sedari ialah, biasanya dengan kemakmuran datangnya kemajuan dan dengan kemajuan datangnya kemewahan.

Selalunya dalam kemewahan manusia akan terlupa dan alpa asal usul mereka. Dan yang menyedihkan lagi adalah dengan kemewahan selalunya kita lupa diri dan keimanan akan menipis.

Sebab itulah kalau kita kaji sejarah kerajaan Islam, syiar Islam terbentuk dari jati diri dan keimanan yang utuh, semangat setiakawan yang erat, pembangunan ekonomi yang adil dan saksama penuh dengan kasih sayang dan keperihatinan, keadilan sosial yang ampuh dan yang palig penting sekali adalah asas kerajaan yang terbentuk dari nur Al-Quran dan petunjuk sunnah.

Apa yang boleh kita pelajari dari peristiwa di atas dan juga mungkin dari keadaan sosio-politik dan ekonomi negara kita Malaysia, kita lihat banyak kepincangan-kepincangan datang dari sifat-sifat penuh nafsu manusia tanpa kawalan iman dan akal.

Kemewahan yang membuat manusia menjadi tamak haloba, yang haram dan halal sudah disamarata dan dimajmukkan, sumber pendapatan sudah tidak di pastikan kebersihannya, zuriat keturunan yang sudah tidak dipedulikan kesuciannya dan kerajaan yang dipilih melalui emosi tidak terkawal, fitnah-memfitnah, rasuah politik, janji-janji manis tapi kosong sehingga boleh membawa kepada pergaduhan serta peperangan dan bunuh membunuh antara kaum, saudara dan seagama yang membawa malapetaka yang tidak ada kesudahannya.

Kalau dulu pepatah melayu ada mengatakan umpama 'katak bawah tempurung' tetapi dengan kecanggihan alat siar-raya, dengan internet berada di mana-mana dan sumber berita berterusan selama 24jam, pepatah sudah berubah menjadi 'seperti katak dalam rumah kaca'.

Tetapi katak tetap katak yang tidak peduli akan apa yang berlaku di persekitaran dia.

Sudahlah tidak peduli, malangnya dia juga tidak peka kepada apa jua yang berlaku di luar rumah sehingga apabila dilanda Tsunami barulah terkapai-kapai mencari ranting untuk berpaut. Takut waktu dan keadaan sudah amat meruncing sehingga tiada apa yang boleh dibuat untuk menyelamatkan dirinya.

Setiap kejadian itu, ada pengajaranNya. Maka sebaiknya kita, ambillah iktibar.
Oleh : Dr Rashid Mokti

Saturday, August 7, 2010

Generasi Muda Malaysia

Patah tumbuh hilang berganti. Generasi muda pewaris negeri.

Soal pewaris negara tidak wajar dipandang enteng. Kerana negara adalah salah satu daripada aset utama kehidupan. Negara adalah platform dimana kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan masyarakat dunia yang lain. Kita tidak mahu melihat anak bangsa kita hidup menumpang di tanah orang, ditindas, diabaikan, dinafikan, dianiaya. Itulah kepentingan sebuah negara kepada bangsa.

Tetapi wajar diingatkan bukan tanah negara sahaja yang diwarisi. Bahkan segala bentuk isi kandungnya juga diwarisi sepanjang zaman. Persoalannya apakah sebenarnya yang diwarisi? Apa yang jelas adalah pembangunan fizikal dan masyarakat majmuk.

Dari segi pembangunan fizikal, kita mewarisi pelbagai permasalahan fizikal. Isu alam sekitar yang parah, sungai tercemar, bukit ditarah, ekosistem terganggu. Isu pembangunan berpusat tanpa kawalan yang menyesakkan. Dari segi masyarakat majmuk, kita mewarisi permasalahan perpaduan. Perbezaan taraf hidup antara kaum membangkitkan rasa tidak senang. Ada yang meminta perlindungan, ada yang meminta berlebihan. Masalah sosial menjadi duri dalam daging kehidupan masyarakat. Bagaikan barah ia merebak dengan pantas sehingga ke masyarakat desa, metropolitan, seawal usia remaja sehingga ke tua. Ini adalah warisan peninggalan untuk generasi muda.

Dalam masa yang sama tidak dinafikan peninggalan berharga untuk diwariskan. Warisan ekosistem yang perlu dipelihara, pembangunan ekonomi yang perlu dijaga, kemakmuran rakyat jelata.

Jadi siapa generasi muda ini yang akan mewarisi segala kemewahan dan penyakit dalam negara ini?
>Kelab Wawasan UIAM

Friday, June 25, 2010

JANGANLAH KITA SELALU MENGELUH KERANA.....

KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," ("I am full of faith to Allah") sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta."
-Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
- Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. "
- Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA RASA FRUST?
QURAN MENJAWAB

"Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org2 yg beriman."
- Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan) , dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah (be fearfull of Allah The Almighty) kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan). "

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk"
- Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka....
- Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal. "
- Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TAK DAPAT TAHAN!!!
QURAN MENJAWAB
"... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir."
- Surah Yusuf ayat 12

Thursday, June 24, 2010

Menghindari Budaya Mengampu


BAGI merealisasikan hasrat kerajaan yang mahukan kakitangannya bersih rasuah, beramanah dalam tugas dan cekap menguruskan kerja, sudah tibalah masanya kakitangan awam menghindarkan diri daripada mengamalkan budaya negatif.

Ini termasuklah budaya mengampu, diampu dan makan ampu yang memang telah sinonim dengan aspek negatif dalam aplikasi persekitaran organisasi.

Budaya mengampu dalam organisasi bukanlah isu baru dalam pembudayaan kerja malah telah begitu lama menjadi amalan praktik warga kerja yang melihat mengampu sebagai satu taktik dan teknik untuk menuju ke puncak kejayaan dalam kerjaya mereka.

Budaya mengampu akan terus wujud selagi wujudnya individu yang menggunakan ampu sebagai senjata untuk mendapat ganjaran yang dikehendaki dan sikap orang yang hendak diampu itu membenarkan aksi mengampu itu diteruskan kerana ada keperluan untuk mendapat habuan daripada si kaki ampu.

Setiap pekerja mempunyai pelbagai objektif yang hendak dicapai dalam pekerjaan mereka dan setiap kehendak untuk pencapaian itulah yang akan menjurus kepada perlakuan untuk mengampu dan diampu. Apabila memperkatakan mengenai budaya mengampu ini, aspek utama yang diperkatakan adalah siapa yang hendak diampu, bagaimana untuk mengampu, mengapa perlu mengampu dan implikasi dari mengampu itu?
Tidak ada pekerja yang hendak mengampu jika dengan mengampu itu tidak membawa apa-apa ganjaran kepada dirinya. Persoalan-persoalan mengenai mengampu perlu dilihat satu persatu dalam usaha untuk memahami dan mengambil panduan mengenai kemampuan sesebuah organisasi itu mengekang budaya mengampu dari terus bertapak kukuh dalam organisasi.

Seseorang pekerja itu hanya akan mengampu individu atau kumpulan kerja yang boleh memberikan ganjaran yang diharapkan oleh mereka hasil daripada sikap mengampu itu. Siapakah yang hendak diampu? Sudah tentu mereka yang mempunyai kuasa yang boleh dimanfaatkan oleh kaki ampu.
Individu yang hendak diampu pula biasanya memiliki kuasa hierarki. Golongan ini mempunyai kedudukan dalam organisasi yang boleh memberi faedah kepada kaki ampu seperti jawatan-jawatan penting dalam dalam organisasi.

Kuasa hierarki itu akan membuatkan warga "semut" terus menghurungi "gula" yang dipercayai akan dapat merasai nikmat kemanisan "gula" tanpa mengetahui akan bahaya manisnya "gula" tersebut.

Kuasa ganjaran pula adalah keupayaan seseorang itu untuk mempengaruhi orang lain dengan mengawal peruntukan ganjaran dan memberi kesan positif atau negatif daripada pengawalan itu. Disebabkan kuasa ganjaran yang dimiliki oleh individu dalam organisasi itulah membuatkan warga kerja yang inginkan ganjaran merasakan bahawa mereka perlu mengampu untuk memperoleh ganjaran positif dan menggelakkan ganjaran negatif.

Kuasa hukuman adalah kuasa yang dimiliki oleh individu dan dengan kuasa itu individu berkaitan boleh melaksanakan hukuman atau mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan hukuman ke atas individu yang melakukan kesalahan dan yang berkaitan. Individu yang memiliki kuasa ini dalam organisasi amat ditakuti kerana dengan adanya kuasa ini boleh mempengaruhi keputusan yang membawa kegagalan kerjaya seseorang pekerja seperti penurunan pangkat, menurunkan penilaian prestasi, menyekat pertumbuhan kerjaya dan sebagainya.

Dengan yang demikian, kaki ampu akan sentiasa berbuat apa sahaja yang diinginkan oleh mereka yang memiliki kuasa bagi menggelakkan hukuman yang telah, sedang atau akan dilakukan pada masa hadapan. Pepatah kaki ampu iaitu "menabur baja dahulu, menuai hasil kemudian" inilah yang menjadikan budaya ampu-mengampu ini tidak "lekang dek panas dan tidak pupus dek hujan" dalam organisasi.

Kuasa rujukan pula adalah kuasa yang boleh mempengaruhi orang lain untuk menggunakan rujukannya sebagai tanda penilaian yang positif untuk orang yang dirujuk. Jika positif rujukan yang diberikan kepada individu yang hendak dirujuk, maka positiflah hala tuju kerjaya orang yang menerima rujukan tersebut dan sebaliknya. Disebabkan itulah maka orang yang mempunyai kuasa rujukan sentiasa diberi perhatian dan pujian oleh mereka yang memerlukan rujukan individu berkaitan untuk kejayaan masa depan mereka.

Jenis kuasa yang dimiliki oleh individu dalam organisasi memberi impak kepada budaya ampu mengampu ini. Semakin kuat kuasa yang dimiliki oleh individu dalam organisasi itu, semakin kuat dirinya diampu oleh individu yang memangnya menjadikan mengampu itu sebagai umpan untuk terus "naik lif" dan bukan lagi "naik tangga".
Soalan bagaimana untuk mengampu penting kepada si kaki ampu kerana dengan meletakkan falsafah "di mana ada usaha, di situlah ada kejayaan" "sedangkan gunung sanggup ku daki, inikan pula tangga dua kali", telah menjadikan taktik mengampu sebagai satu rutin harian bagi melancarkan pekerjaannya.

Secara terasnya kaki ampu hanya bijak menggunakan pelbagai teknik dan taktik untuk mengampu. Manakala yang hendak diampu itu hanya mampu untuk menunggu habuan-habuan yang akan diterima. Beberapa taktik yang digunakan oleh kaki ampu untuk mengampu telah "menyemarakkan" lagi situasi "memberi dan menerima" yang akhirnya menuju kepada budaya rasuah. Bagaimana untuk mengampu? Banyak caranya dan bergantung kepada besar atau kecilnya "permintaan" kaki mengampu ini, antaranya dengan memberikan hadiah-hadiah yang menjadi kesukaan mereka yang hendak diampu.

Mengapa perlu mengampu? Soalan ini tidak susah untuk dijawab kerana selagi ada kehendak dan keperluan individu yang hendak dicapai, selagi itulah seseorang itu perlu mengampu. Mengapa perlu mengampu? Jawab si kaki ampu, mengampu itu perlu untuk mendapatkan ganjaran yang mereka kehendaki dengan sedikit keupayaan yang mereka ada.

Selalunya si kaki ampu ini adalah mereka yang tidak banyak memiliki kriteria yang boleh memberi kejayaan pada mereka. Ada juga si kaki ampu ini terdiri daripada mereka yang sentiasa inginkan perhatian dan kejayaan demi kejayaan tanpa perlu melalui banyak rintangan.

Thursday, May 20, 2010

'M'sia bukan masyarakat judi'

 Oleh: Dr Mohd Asri Zainul Abidin

Kenyataan Timbalan Menteri Kewangan Datuk Awang Adek Hussein bahawa kerajaan pusat mempertimbangkan untuk mengeluarkan lesen judi sempena Piala Dunia 2010 demi mengelakkan berleluasa kegiatan judi haram adalah satu kenyataan yang memalukan dan amat menyalahi cara fikir yang lurus.
Saya ingin tegaskan hal ini berasaskan perkara berikut:

1. Dari segi Islam adalah menjadi asas bahawa 'tindakan pemerintah terikat dengan maslahah'. Maslahah dalam konteks ini adalah kepentingan atau kebaikan rakyat dan negara itu sendiri.
Ini seperti juga yang disebut oleh al-Imam al-Syafi'i r.h: “Kedudukan pemerintah di sisi rakyat bagaikan kedudukan penjaga anak yatim” (lihat: Al-Sayuti, al-Asybah wa al-Nazair).
Apakah memberikan lesen judi itu memberikan kebaikan atau mempunyai kepentingan umum rakyat? Atau ia hanya kepentingan segelintir taukeh dan kaki judi semata?
Jika ia tidak memulangkan kepentingan umum atau kebaikan kepada rakyat maka itu bukan tindakan pemerintah yang bertanggungjawab.

2. Tidak dinafikan judi dan arak memang mempunyai keuntungan dan beberapa manfaat untuk pihak-pihak tertentu.
Namun, ancaman dan bahayanya jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang bakal diterima.
Al-Quran menyebut: (maksud) “Mereka bertanya engkau (wahai Muhammad) tentang arak dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya ada dosa (keburukan) yang besar dan manfaat kepada manusia.
Namun dosa (keburukan) keduanya lebih besar dari manfaatnya” (Surah al-Baqarah ayat 219).
Maka dengan itu, sekadar untuk digunakan cukai judi berkenaan untuk kegiatan sukan bukan satu alasan. Kerosakan judi lebih besar dari manfaat yang akan diterima.
Membiayaan untuk membaikinya nanti jauh lebih tinggi.

3. Judi sama ada 'dilesenkan' atau tidak dilesen keburukannya sentiasa dominan.
Ia menyebabkan pembaziran tanpa sebab, sikap bergantung nasib tanpa kewarasan, merosakkan keluarga, menimbulkan tabiat suka berhutang, membawa kepada kejatuhan ekonomi individu secara mengejut, ketagihan tabiat buruk tersebut yang luar biasa dan berbagai lagi keburukan yang lain.
Akal waras manusia dari semua aliran agama dan masyarakat, bahkan yang tidak beragama pun tetap menyatakan judi selalu merosakkan masyarakat.

4. Jika pun judi itu untuk masyarakat bukan Islam, saya tetap katakan masyarakat Malaysia bukan masyarakat judi.
Tiada ajaran mana-mana agama yang menggalakkan judi. Tiada siapa pun dalam mana-mana bangsa atau agama dalam negara ini sanggup untuk mendakwa 'judi adalah budaya kami', atau 'kebanggaan hidup kami'.
Jika ada, itu terkeluar dari norma kewarasan. Tiada isteri yang normal sukakan suaminya kaki judi.
Maka, jangan kaitkan atau hidupkan budaya ini secara terbuka dalam masyarakat kita. Kaki judi sentiasa dipandang negatif dalam semua masyarakat yang rasional.

5. Judi akan menggalakkan tabiat berhutang dan pergaduhan. Sama ada diberi lesen atau tidak, tetap sama.
Hutang along atau hutang bank, tetap bebanan hutang.
Jika diberi lesen terbuka, yang tertutup tetap berjalan seperti biasa. Itu bukan alasan yang munasabah.

6. Peranan pemerintah adalah mencegah keburukan, bukan menaja atau bersaing dengan penjenayah. Cadangan tersebut hanya mengubah 'tauke' sahaja dari yang berlesen kepada yang tidak berlesen.
Apakah nanti mungkin kita akan wujudkan tempat 'hisap candu berlesen' untuk mengelakkan penagih candu menghisapnya di tempat yang tidak berlesen?
Jangan fikir lesen dan cukai keuntungan sahaja, kerajaan hendaklah berfikir kesan yang akan menimpa rakyat nanti!

Maka, saya sekali lagi membantah cadangan ini dan meminta semua rakyat Malaysia yang waras dan mempunyai nilai-nilai agama dan moral membantah cadangan ini!

Sumber: http://www.malaysiakini.com/columns/131353

Wednesday, April 7, 2010

GEJALA SOSIAL SEMAKIN MEMBIMBANGKAN

(Tersiar di Berita Harian, 25 Mac 2010)


Dalam kita berasa gembira melihat peningkatan kesedaran terhadap kehidupan beragama di negara ini seperti terjelma di dalam pelbagai bidang kehidupan, pada masa sama, ruang ‘gelap’ kehidupan yang bertentangan dengan nilai ajaran agama bertambah meluas. Peningkatan jumlah anak luar nikah ialah antara petanda ruang gelap itu yang menunjukkan kegiatan perzinaan semakin berleluasa dan tidak terkawal lagi.

Persoalannya, kenapa gejala ini berleluasa dan bagaimanakah kita boleh mengekang peningkatannya? Secara umum, gejala ini adalah antara kesan negatif perkembangan masyarakat terbuka hari ini.

Penularan budaya hidup bebas dan penyebaran bahan bacaan dan tontonan yang bercorak tidak senonoh merapuhkan lagi identiti masyarakat terutama sebahagian muda mudi yang terhakis jati dirinya. Globalisasi budaya hidup yang bercorak hedonisme nampaknya merobek benteng nilai agama dan ketimuran yang tinggi masyarakat kita.

Kedapatan daripada kalangan anggota masyarakat yang mempersoalkan mengenai tahap keberkesanan pengajaran agama Islam pada peringkat rendah dan menengah di dalam membangun jati diri masyarakat. Kita ingin menyatakan iaitu, proses pembentukan jati diri tidak hanya tergantung kepada pendidikan agama formal yang diterima oleh seseorang pelajar pada peringkat sekolah. Memang ia antara faktor yang teras. Namun, faktor persekitaran seperti keadaan kehidupan keluarga dan suasana sosial dan budaya masyarakat juga faktor penting yang mempengaruhi arah pembentukan jati diri seseorang individu.

Tanpa menafikan keperluan terus menilai keberkesanan pendidikan agama dan moral pada peringkat sekolah, penelitian terhadap perkembangan persekitaran sosial dan budaya juga harus diperhalusi di dalam usaha kita mengenal pasti punca kepada permasalahan yang sedang berlaku secara keseluruhan. Di dalam erti kata lain, kehidupan harus ditanggapi di dalam sifatnya yang bercorak organik iaitu saling berkait antara satu dengan lain. Sesuatu permasalahan tidak mungkin disumbangkan oleh satu-satu faktor saja, tetapi meliputi pelbagai aspek kehidupan. Langkah jangka pendek atau penyelesaian segera dan langsung juga wajar juga dikemukakan.

Langkah dan usaha pengupayaan kepemimpinan pada peringkat institusi keluarga dan sosial wajar dilakukan dengan kadar segera. Proses pengupayaan ini bermaksud antara lain meningkatkan kesedaran keluarga di dalam mengawal perkembangan ahli rumah tangga daripada terjebak di dalam kegiatan tidak bermoral. Hal ini meliputi langkah pengukuhan kepemimpinan rumah tangga dan mengenal pasti institusi keluarga yang bermasalah untuk diberikan sokongan langsung.

Langkah ini menuntut kepada usaha pengupayaan institusi sosial setempat. Di dalam konteks masyarakat Melayu, pengupayaan institusi masjid dan surau amat penting sekali. Di samping itu ialah penggemblengan pertubuhan dakwah, wanita, belia dan perniagaan. Malah di dalam konteks ini, rangkaian pergerakan politik terutama pada peringkat cawangan atau cabang harus digembleng secara saksama bagi mengekang permasalahan ini. Semua peringkat individu dan institusi harus bergerak serentak dan sehaluan serta menanggapi permasalahan ini sebagai satu cabaran dan kepentingan bersama.

Barangkali salah satu daripada langkah segera yang boleh dianjurkan bagi mengekang permasalahan ini juga ialah dengan mempermudahkan urusan perkahwinan di kalangan muda mudi. Hal ini menuntut persefahaman langsung daripada ibu bapa. Dalam erti kata lain, ibu bapa harus menggalakkan anak berkahwin lebih awal setelah memenuhi tahap umur yang diizinkan sekiranya didapati pergaulan mereka boleh membawa kemudaratan. Di dalam keadaan ini, adat yang menghambat perkahwinan hendaklah dipermudahkan.

Usaha menggalakkan perkahwinan awal bagi golongan muda-mudi perlu didukung oleh institusi agama dan sosial. Di dalam hal ini, kita ingin menganjurkan supaya program perkahwinan secara beramai-ramai atau juga dikenali sebagai ‘nikah jamaie’ dibudayakan di dalam masyarakat kita. Menerusi program ini, pasangan muda-mudi yang sudah bersedia mendirikan rumah tangga dinikahkan dan diraikan secara beramai-ramai di dalam satu majlis yang didukung oleh institusi masyarakat. Program ini akan menjimatkan perbelanjaan urusan perkahwinan, dan di dalam masa yang sama penuh dengan kenangan dan kemeriahan.

Pandangan ini bersifat umum, namun memadai bagi menimbulkan sikap peduli dan prihatin kita semua di dalam menanggapi permasalahan baru masyarakat ini. Banyak lagi perkara yang perlu dibahaskan berkaitan dengan hal ini seperti keperluan kita memahami psikologi muda-mudi hari ini, menilai saluran penyebaran nilai agama dalam masyarakat dan tuntutan usaha menambah baik sistem sokongan sosial bagi pembangunan keluarga dan belia secara menyeluruh. Perbincangan semua hal ini amat penting di dalam usaha menangani dan mengekang gejala peningkatan anak luar nikah dan memastikan struktur sosial kita kembali utuh pada masa akan datang.

Tuesday, March 16, 2010

Gagasan ilmu perlu dalam kebudayaan, tamadun


Oleh Dr Zaini Ujang
BUDAYA ilmu adalah antara teras konsep 1Malaysia yang diperkenalkan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak. Menerusi budaya ilmu, masyarakat Malaysia berpotensi menjadi lebih dinamik, bermaruah, berinovasi dan berdaya saing. Antara program pengisian utama budaya ilmu ialah tradisi menghargai sumbangan dan meneladani tokoh ilmuwan. Tradisi ini sangat penting bukan kerana tokoh ilmuwan wajar diberi penghormatan kerana ketokohannya tetapi sumbangan dalam memajukan masyarakat menerusi komitmen dan pengembangan ilmu. Realitinya tokoh ilmuwan sering kali tidak difahami apatah lagi diiktiraf masyarakat sewaktu hayatnya. Malah kebanyakan tokoh ilmu seperti Imam Malik, Ibnu Taymiyyah, Syeikh al-Mutawalli Sya'rawi, Hamka, Galileo Galilei, Leonardo da Vinci dan sebagainya pernah dipenjara kerana komitmen yang ditunjukkan oleh mereka terhadap ilmunya. Masyarakat biasanya lebih nampak dan takjub dengan pemaparan luaran dan sumbangan berbentuk material yang sering mengelirukan. Apatah lagi jika individu itu mempunyai harta, aura dan penonjolan media yang menyerlah. Kalau hartawan, kita nilai kedermawanannya. Kalau penguasa, kita nilai keadilannya. Kalau pujangga, kita nilai kehalusan citranya. Dan kalau sarjana, kita nilai tahap hikmahnya.

Justeru, pada 23 Februari lalu, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menganjurkan majlis pelancaran buku Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam: Essays in Honour of Syed Muhammad Naquib Al-Attas oleh Raja Muda Perak, Raja Nazrin Shah. Buku suntingan Wan Mohd Nor Wan Daud dan M Zainiy Uthman itu adalah kumpulan 22 makalah tulisan 24 sarjana antarabangsa dalam menilai sumbangan serta pemikiran Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Dalam titahnya, Raja Nazrin menghargai sumbangan Syed Naquib sebagai ‘insan istimewa, memiliki watak intelek, jiwa intelek, daya intelek dan roh intelek seorang Muslim, perintis dalam mempelopori idea mengIslamkan ilmu’. Selain itu, Raja Nazrin berkenan mengupas isi buku itu secara intelek dan memperihalkan pengalaman bersama Syed Naguib dalam satu pertemuan selama dua jam ketika beliau menjadi Pengarah di Institut Antarabangsa Pemikiran dan Tamadun Islam (ISTAC).


Titah Raja Nazrin lagi, pertemuan singkat yang satu-satunya itu - ‘berjabat tangan, bertentang mata, disusuli dengan renungan kata dan perbualan kata’ - memberi nilai baru akan erti dan makna pertemuan ‘bahawa pertemuan bernilai itu tidak memerlukan masa yang lama.’


Secara peribadi, Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1972) adalah karya Syed Naquib yang pertama saya baca. Ketika itu, saya masih mahasiswa jurusan kejuruteraan kimia yang kehausan idealisme. Awalnya memang sukar memahami pemikiran menerusi laras ilmu bahasa tinggi Syed Naquib. Perenggan pertama halaman pertama saja mengambil masa lebih setengah jam untuk saya berjinak-jinak dengan pelbagai istilah dan nama besar seperti Voltaire dan Macaulay; dan mengenai pengalaman Gulliver di negeri Brobdingnag yang didiami manusia tinggi dan besar seperti raksasa. Tidak tepat jika saya membicarakan ketokohan Syed Naguib kerana Prof Wan Mohd Nor dan Dr Zainiy Uthman lebih layak, akrab dan simbiotik. Saya sekadar melahirkan rasa syukur kerana dalam hidup saya sempat mengenali dan cuba berdampingan dengan seorang tokoh ilmuwan tempatan - dan sempat turut sedikit sebanyak terbabit menerbitkan buku menghargai sumbangan keilmuannya - yang mendapat perhatian dan sanjungan antarabangsa. Sumbangan Syed Naquib cukup bermakna bukan saja menjelaskan konsep dan asas pemikiran mengenai tema besar kehidupan, seperti Islam sebagai satu cara hidup, sejarah dan kebudayaan Melayu, pendidikan, sains, kemajuan, pembangunan, tamadun dan seumpamanya; tetapi turut terbabit dalam penubuhan pelbagai institusi berteraskan ilmu seperti Institut Bahasa, Kebudayaan dan Kesusasteraan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan ISTAC.


Beliau juga antara pemikir ulung yang terawal membicarakan gagasan pengislaman ilmu dan universiti Islam yang berteraskan kepada konsep ilmu yang tidak bersifat bebas-nilai. Gagasan dan perkembangan ilmu mestilah selaras dengan sesuatu pandangan hidup, kebudayaan dan tamadun. Justeru cendikiawan Muslim dan institusi pengajian tinggi bertanggungjawab menyebarkan ilmu berasaskan pandangan hidup Islam. Inilah yang memperkuatkan jati diri dan idealisme umat Islam mengharungi pelbagai proses dalam membangunkan negara dan tamadun; dan sebagai perisai menghadapi gelombang globalisasi. Program pelancaran buku menghargai Syed Naguib oleh Raja Nazrin meninggalkan impak tersendiri kerana menyedarkan kita mengenai resam budaya ilmu yang sentiasa memuliakan kesarjanaan dan memartabatkan ilmuwan yang mempunyai pelbagai pandangan, idea dan gagasan yang kadangkala tampak sedikit percanggahan. Tetapi itulah hakikat perkembangan ilmu yang semakin subur dengan sifat kepelbagaian dan kerencaman.


Dalam konteks kenegaraan, Raja Nazrin bertitah: “Kejatuhan sesebuah negara bermula dengan kemunduran negara disebabkan budaya dan persekitaran politik yang membunuh perkembangan intelek kerana sifat takut dan gentar pimpinan yang sedang berkuasa yang merasakan kedudukan mereka mungkin tercabar... Pimpinan yang stabil dan negara yang maju senantiasa memilih pendirian untuk mendampingi dan bekerjasama dengan ilmuwan dan menyediakan persekitaran politik yang tidak memusuhi kumpulan ilmuwan.”


Sumber: Utusan Malaysia

Monday, March 15, 2010

Isu Membasmi Kemiskinan: Antara Sahih Dan Munkar “Apakah Masalah Haqiqatnya?”


Cetusan isi hati setiap pemimpin yang silih berganti tidak dapat tidak akan membangkitkan isu pembasmian kemiskinan. Namun setiap ide yang dikeluarkan hanya mampu mengatasi masalah kemiskinan ini untuk satu jangka masa yang pendek sahaja, dan kemudian masalah yang lain pula timbul hasil dari pelaksanaan ide yang pada mulanya disangkakan bernas tadi, di mana akhirnya isu utama yang cuba diselesaikan makin menjadi rumit dan terus-terusan menjadi phobia di kalangan mereka yang bergelar pemimpin. Selagi masalah ini masih di takuk lama, selagi itulah ia akan terus menghantui pemikiran pemimpin untuk mencari jalan penyelesaian.

Mengikut carta statistik menunjukkan rata-rata kadar kemiskinan di kalangan orang Melayu yang pada zaman 70’an dulu melebihi kadar 50% telah dapat diturunkan sehingga ke paras bawah 5% sekarang. Sekiranya benar ukuran yang digunakan dan sekiranya cuma sekadar 5% kenapa masalah kemiskinan ini masih menjadi agenda utama pucuk kepimpinan? Nyatalah sebenarnya ukuran statistik yang dipamerkan tidak menunjukkan fakta yang sebenar.

Kayu pengukur kadar kemiskinan yang digunakan sudah tidak sesuai lagi untuk digunapakai bagi mengukur kadar kemiskinan zaman ini. Kalau dahulu kita sering mengkaitkan kemiskinan dengan masyarakat luar bandar, tapi sekarang isu kemiskinan ini lebih berat kepada masyarakat bandar. Masyarakat luar bandar yang dirundung kemiskinan masih boleh mengalas perut dengan makan ubi rebus, tetapi masyarakat bandar yang dirundung kemiskinan perlu mendapatkan hasil belas insan lain atau tidak maka terpaksa berlapar ditengah-tengah kota yang mana makanan boleh dikatakan melimpah ruah diseluruh pelusuk tempat. Apa maknanya semua ini? Oleh yang demikian maka sudah pasti ada yang tidak kena dengan cara kita mengatasi masalah kemiskinan ini.

Kalau di satu masa dahulu di zaman keagungan empayar Islam yang dipimpin oleh Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz, tidak terdapat seorang pun yang memerlukan wang zakat, kenapa contoh yang sama tidak dapat kita lakukan di zaman ini? Tentunya masih ada lagi yang kita tidak faham sehinggakan setiap langkah penyelesaian kita adalah merupakan masalah baru yang kita cetuskan kemudian. Ada tak kita terfikir jika cara kita melaksanakan urusan harian kita ini sahih semestinya hasilnya juga sahih; tetapi kenapa sebaliknya yang berlaku; “hasil yang disangkakan sahih sebaliknya menghasilkan lebih banyak kemungkaran”. Hakikat yang harus kita terima ialah jangan cuba menegakkan benang yang basah, biar pahit mana sekali pun.

Kalau di zaman dahulu mereka yang diklasifikasikan sebagai miskin adalah mereka yang kurang upaya, janda maupun ibu tunggal yang mempunyai anak kecil yang perlu dijaga dan orang tua yang uzur yang tidak mampu untuk bekerja, selain dari golongan ini seharusnya tidak miskin kerana mereka boleh bekerja untuk menampung diri dan juga tanggungan mereka. Apa sahaja kerja yang mereka lakukan pasti memberikan mereka pulangan yang boleh untuk mereka menanggung diri dan tanggungan mereka, sebagai contoh mencari kayu api di hutan ataupun mengail ikan di sungai dan lain-lain. Mereka yang malas bekerja sahaja yang akan menjadi “miskin” kerana tabiat buruk (malas) mereka sendiri. Namun di zaman yang kononnya digembar-gemburkan sebagai zaman bukan sahaja serba moden  malahan globalisasi ini, mereka yang miskin ini bukanlah di kalangan mereka yang malas bekerja, malah mereka ini adalah di kalangan yang ter-rajin sekali, sebagai contoh penoreh getah, pemandu teksi, nelayan, pekerja kilang, pekebun dan petani, buruh kasar membina rumah dan banyak lagi. Cuba bilang masa yang mereka habiskan dalam sehari untuk bekerja, tetapi pulangan yang mereka dapat mengkategorikan mereka di kalangan orang miskin.

Lebih teruk lagi bila di zaman ini ada satu klasifikasi ekonomi yang dipanggil kadar pengangguran. Di mana kadar pengangguran ini bermakna terdapat sebilangan masyarakat yang sedang mencari pekerjaan tetapi tiada pekerjaan yang dapat diuntukkan kepada mereka. Di mana logiknya kadar pengangguran ini? Apakah mereka yang sedang mencari pekerjaan dan tidak mendapat pekerjaan ini yang kemudiannya diklasifikasikan sebagai mereka yang menganggur ini tidak boleh bekerja? Sudah tentu mereka ini boleh bekerja, tetapi kenapa sistem ini menghalang mereka dari bekerja?

Apakah menjadi tangungjawab masyarakat ataupun kerajaan samada awam maupun swasta memberikan pekerjaan, maka bilamana pekerjaan tidak ada maka kerajaan harus dipersalahkan? Bukankah setiap kita ini seharusnya diberikan kebebasan untuk bekerja bagi menyara hidup kita dan tanggungan kita, dan bukannya tertakluk kepada jumlah pekerjaan yang disediakan oleh pihak pemerintah. Seharusnya tidak ada istilah pengangguran kerana rakyat sepatutnya bebas untuk melakukan apa sahaja yang berlandaskan undang-undang untuk mencari rezeki.

Bayangkan jika tidak ada petani yang sanggup menanam pisang kerana hasil jualannya yang tidak setimpal itu, maka dapatkah seorang pegawai yang bekerja di institusi kewangan dapat menikmati kesedapan sebiji pisang. Bagaimanakah untuk seorang nelayan tidak mengeluh dengan usahanya; hasil usahanya yang bertarung dengan nyawa di lautan bergelora, asyik sahaja menurun nilainya. Tahun demi tahun walaupun hasil tangkapannya di lipat kali gandakan tetapi imbuhan yang diterima masih juga tidak setimpal dengan usahanya. Sebagai contoh yang mudah, katakan pada hari ini seorang nelayan menangkap seekor ikan siakap dan dijualnya dipasar dan dia dapat 10 ringgit untuknya, maka dibelinya 5 tin susu untuk kegunaan isi rumahnya, namun pada tahun hadapan nelayan ini telah pergi mengail dan mendapat ikan siakap yang lebih besar daripada tangkapan yang lalu, maka bila dijualnya di pasar dia mendapat 11 ringgit, tetapi apabila dia ingin mendapatkan 5 tin susu, pekedai menyatakan duitnya hanya cukup untuk membeli 4 tin susu. Maka tersentak si nelayan mengenangkan nasibnya, lantas tercetus dimindanya - dimana adilnya?

Mungkin ada di kalangan kita yang mengatakan, inilah yang dinamakan inflasi. Tetapi, yang sebenarnya faktor inflasi adalah cuma satu jawapan kepada mereka yang malas untuk berfikir. Apakah dengan meletakkan alasan ketidakadilan tadi adalah kerana faktor inflasi maka ketidak adilan yang berlaku dapat dihalalkan? Bukankah dengan mendefinisikan inflasi seperti itu membenarkan kita menyatakan bahawa inflasi itu adalah suatu yang mungkar. Kenapa tidak dikaji apakah sebenarnya yang dikatakan inflasi itu dan adakah ianya wujud sejak dari dahulu kala lagi, dan apakah sebenarnya yang menyebabkan inflasi?

Nampaknya isu membasmi kemiskinan ini bukanlah hanya sekadar membantu mereka yang miskin itu untuk keluar dari kategori miskin malah ianya adalah lebih rumit daripada itu. Setakat ini kita dapat merumuskan bahawa terdapat kepincangan di dalam sistem pembayaran yang kita amalkan yang menyebabkan berlaku ketidakadilan tadi. Isu pembayaran inilah yang harus kita tumpukan buat masa ini bagi menyelesaikan sebahagian daripada masalah membasmi kemiskinan. Harus diingat dalam usaha mencari jalan penyelesaian, kebenaran biarpun pahit untuk ditelan tetap perlu dibongkar dan dilaksanakan. Mintalah pedoman Allah SWT supaya dicelikkan yang mana sahih dan yang mana mungkar, Insya’Allah barulah isu membasmi kemiskinan ini dapat diselesaikan buat sekian kalinya.

Friday, March 12, 2010

Pegangan Ekuiti Bumiputera Semakin Menguncup: Perlukah DPBS lancarkan “Juara Niaga”?


Pertama sekali, sedikit coretan mengenai seminar yang telah saya sertai anjuran DPBS.............Dewan Perniagaan Bumiputera Sabah (DPBS) dengan kerjasama Pejabat Daerah Kota Belud telah menganjurkan Seminar Keusahawanan Dan Peningkatan Modal Insan Masyarakat Bumiputera pada 11 Mac yang bertempat di Dewan Datuk Zakariah PDKB. Saya merupakan salah seorang peserta seminar tersebut.

Seawal 7.30 pagi kaunter pendaftaran dibuka. Ketika saya sampai, kelihatan begitu ramai peserta yang datang mendaftar yang dianggarkan dalam lingkungan 250-300 orang peserta. Dengan sambutan yang begitu ramai, Tahniah kepada DBPS.

Seminar telah bermula tepat jam 8.30 pagi walaupun pada asalnya dijadualkan akan bermula jam8.00 pagi. Mungkin disebabkan kehadiran peserta yang diluar jangkaan pada hari itu, menyebabkan majlis lewat bermula. Ceramah pertama telah disampaikan oleh MARA wakil daripada PMD Tuaran kemudian diikuti oleh wakil TEKUN Kota Belud yang disampaikan sendiri oleh pengurusnya dan diteruskan oleh wakil-wakil agensi-agensi lain.

Komen saya terhadap seminar tersebut walaupun kehadiran peserta yang ramai namun hakikatnya seminar tersebut HAMBAR!. Ia berdasarkan beberapa aspek, pertama persediaan pihak penganjur seminar tersebut dari segi peralatan yang kurang memuasakan. Contohnya P.A System gagal berfungsi dengan baik ditambah dengan pengerusi majlis yang  sedikit mengabaikan amalan protokol majlis. Ramai peserta yang duduk di bahagian belakang yang merungut disebabkan apa cuba disampaikan oleh para penceramah serta pengerusi majlis tidak jelas kedengaran.

Aspek seterusnya yang perlu diberi perhatian oleh pihak penganjur dan khasnya kepada para penceramah jemputan adalah siapa audien atau pendengar ceramah tersebut. Ini kerana ketika saya mengikuti ceramah, terdapat penceramah yang terlalu mengunakan istilah yang agak ilmiah/ canggih sedangkan hampir 95 peratus peserta yang hadir ketika itu terdiri daripada golongan warga yang sudah lanjut usia yang kelihatan sememangnya sukar untuk bercakap dalam Bahasa Melayu baku apa lagi dengan menggunakan bahasa-bahasa yang bombastic. Seperkara lagi yang saya fikir agak penting ialah, penceramah dalam keadaan fokus kepada skop/tajuk ceramah seharusnya juga menyampaikan apa yang hendak/ingin diketahui oleh audien/pendengar Bukannya menyampaikan apa yang dia tahu. Agensi/ Jabatan yang menghantar wakil bagi sesuatu seminar seharusnya wakil tersebut hendaklah seorang pegawai/kumpulan pembuatan keputusan. Ini kerana audien/hendakkan jawapan yang tepat bukannya jawapan berikut “perkara ini nanti saya rujuk dengan pegawai/bos saya, kemudian saya akan maklumkan dengan kamu”. 

Ketika menghadiri seminar tersebut, saya agak terkejut namun bukan kerana kedatangan peserta yang agak ramai tetapi kebanyakan peserta yang datang adalah daripada golongan warga yang sudah berusia/ warga emas, saya merupakan antara peserta yang termuda ketika itu... Ke mana perginya generasi muda? Apakah generasi muda bumiputera tidak berminat dalam bidang perniagaan? Itu dari aspek peserta. Sama juga halnya dengan AMT/ Board of Director DBPS pusat dan KB, semuanya orang lama kecuali YDP DPBS pusat adalah orang muda namun itu pun hanya pemangku.

Saya tidak berniat menidakkan keupayaan orang lama yang menerajui DPBS pusat dan Kota Belud, saya sangat menghargai sumbangan mereka untuk memajukan bumiputera. Namun demikian pada hemat saya, DPBS harus dirombak dengan memberi ruang yang lebih luas kepada golongan muda. Ini sebagai usaha untuk rejuvensi yang saya fikir perlu untuk DPBS, memberi ruang kepada golongan muda yang boleh bertindak sebagai golongan pendesak.

Kedudukan pegangan ekuiti bumiputera yang semakin menguncup, menuntut kepada pengorbanan dan perjuangan daripada NGO-NGO bumiputera. Skala perniagaan bumiputera yang semakin mengecil jika dibandingkan dengan non-bumiputera memperlihatkan betapa perlunya DBPS memainkan peranan. DPBS disamping perlu ejuvensi ia juga perlu menjadikan Juara Niaga sebagai fokus utama sepertimana UMNO yang melancarkan program Juara Rakyat. UMNO bukannya tidak juara rakyat tetapi kurang juara ekoran keputusan PRU-12. Begitulah pula halnya dengan DPBS yang perlu pendekatan Juara Niaga.

Maka DPBS mungkin memerlukan beberapa pindaan perlembagaan serta menilai semula mengenai kepincangan/kegagalan bumiputera bersaing dalam dunia perniagaan. Namun apa yang paling penting, DPBS seharusnya memikirkan bagaimana DPBS boleh mendapat kepercayaan kerajaan khasnya dalam urusan pengiktirafan bumiputera, di mana jika berdaftar dengan PMS, PUKONSA dan PKK, memadailah dengan berdaftar di DPBS untuk mendapat pengiktirafan bumiputera. Jika ini yang boleh dilakukan oleh DPBS, maka saya yakin dan percaya DPBS mampu melangkah lebih jauh dalam usaha memperkasa ekonomi bumiputera dan seterusnya melahirkan juara niaga bumiputera.        

Wednesday, March 10, 2010

Kota Belud: Kesesakan Jalan Semakin Kronik.



Perkembangan sektor pengangkutan darat moden di negara kita bermula pada tahun 1930-an apabila penjajah British meluaskan kuasanya di Tanah Melayu. Kini, sektor ini telah mengalami perkembangan yang pesat, terutama di bandar besar sehingga telah menimbulkan masalah kesesakan jalan raya yang serius.
Kesesakan jalan raya menjadi satu fenomena biasa di bandar besar. Semua orang harus menerima hakikat bahawa jalan raya di bandar besar sudah tidak lagi dapat menampung kenderaan yang semakin bertambah tetapi lain pula halnya bagi Daerah Kota Belud yang belum pun mencapai status bandar besar telah menghadapi masalah kesesakan jalan yang semakin kronik. Seandainya faktor  pertambahan pesat penduduk yang berhijrah dari luar bandar dijadikan alasan, merupakan suatu andaian yang cukup meleset. Ini kerana Daerah Kota Belud merupakan kawasan yang tidak keterlaluan saya nyatakan sebagai kawasan luar bandar dan sebahagian besar kawasan di daerah ini adalah dikategorikan sebagai kawasan pedalaman.   
Biasanya faktor kemalangan juga dikatakan berlakunya kesesakan jalan raya. Apabila kemalangan terjadi, ia akan menghalang lalu lintas dan menyebabkan kesesakan. Memandangkan Malaysia ialah salah sebuah negara yang mempunyai kadar kemalangan  jalan raya yang tinggi di dunia, ia secara langsung mempengaruhi fenomena kesesakan jalan raya. Namun demikian, apa yang biasa kita perhatikan bahawa statistik kemalangan di Kota Belud adalah antara yang terendah di Malaysia. 

Kesesakan jalan raya menimbulkan pelbagai masalah kepada penduduk. Salah satunya ialah masalah masa. Akibat kesesakan lalu lintas, banyak masa yang terbuang. Golongan yang bekerja terpaksa keluar dari rumah awal-awal lagi dan pulang ke rumah lewat petang. Banyak masa yang sepatutnya dihabiskan di rumah bersama anak-anak terbuang bigitu sahaja. Selain pembaziran masa, ia menyebabkan tenaga kerja negara tidak produktif. Ini sekali gus merugikan negara dari segi ekonomi.
Kerja-kerja yang sepatutnya boleh dilakukan dalam masa yang singkat boleh tergendala akibat kesesakan jalan raya. Banyak urusan ekonomi dan perniagaan seperti penghantaran barang dari satu tempat ke tempat yang lain sering tergendala dan mengambil masa yang lama untuk sampai ke destinasinya walaupun melibatkan jarak yang dekat.

Satu lagi akibat daripada kesesakan jalan raya ialah berlakunya penyakit fizikal. Kesesakan jalan raya yang serius boleh menyebabkan pencemaran paru-paru, sesak nafas dan pening kepala. Bunyi bising enjin kenderaan boleh menyebabkan kerosakan pendengaran dan masalah gangguan konsentrasi. Selain itu, kesesakan jalan raya juga boleh menimbulkan ketegangan psikologi. Ini terjadi kerana para pengguna jalan raya terpaksa menghabiskan masa berjam-jam di jalan raya. Kajian yang dijalankan oleh pakar psikologi menunjukkan bahawa masyarakat bandar sering terdedah kepada masalah ketegangan akibat daripada kesesakan jalan raya, pencemaran alam sekitar dan bunyi bising.
Keputusan untuk melaksanakan Projek Jalan Penyuraian (Relief Road) yang telah diumumkan seawal suku keempat tahun 2009 merupakan keputusan yang tepat pada masanya. Umum telah dimaklumkan oleh pihak berkenaan bahawa jalan tersebut sudah di peringkat akhir rekabentuk dan akan ditender secepat mungkin memandangkan kerajaan persekutuan telahpun bersetuju menyediakan peruntukan bagi projek tersebut. Seperkara lagi dikhabarkan bahawa kerja-kerja pembinaan hanya akan mengambil kurang daripada 4 bulan untuk disiapkan sepenuhnya.
Pengguna jalan yang semakin tertekan dengan masalah kesesakan jalan selama ini, berasa lega dan bersyukur kerana akhirnya rintihan dan suara mereka selama ini telah mendapat perhatian sewajarnya daripada pihak berkenaan. Ini kerana jalan tersebut dikatakan mampu untuk menyuraikan sistem trafik kenderaan di Kota Belud dengan lebih berkesan lagi disamping dapat mengurangkan kesesakan jalan yang semakin kronik di Kota Belud.
Namun demikian, beberapa orang pengguna jalan raya baru-baru ini melahirkan rasa kekecewaan, kerana apa diharapkan selama ini jalan raya  berbentuk “Y” yang menjadi hadiah buat pengguna jalan raya, bak kata pepatah seperti “menunggu kucing bertanduk”. Projek ini semakin menjadi tanda tanya kerana tidak menampakkan sebarang tanda-tanda kerja pembinaan bermula. Apakah projek tersebut telahpun dibatalkan? Jika tidak!, kenapa tidak dilaksanakan? Jika Ya! Apakah kaedah penyelesaian altenatif?.
Penantian para pengguna selama ini seperti sedang menantikan hujan yang tidak pernah kunjung tiba sedangkan guru berdentum-dentum di langit bagaikan halilintar membela bumi. Harap pihak berkenaan memberikan penjelasan sewajarnya kepada para pengguna jalan dan amnya rakyat di daerah ini berhubung isu berkenaan.
Kesimpulannya, semua pihak terbabit perlu bertindak segera menangani masalah ini sebelum ia menimbulkan kesan sosioekonomi yang lebih serius. Ini kerana kesesakan jalan di Pekan Kota Belud, adalah isu yang termasuk dalam kategori isu yang tidak pernah selesai di daerah ini.

Monday, March 8, 2010

Kota Belud: Dilema Keperluan Asas.


Isu-isu berkaitan perkhidmatan dan bekalan air bersih di Negeri Sabah merupakan salah satu isu yang hangat diperkatakan dewasa ini. Tambahan pula ekoran kenyataan beberapa pihak termasuk wakil rakyat berhubung urusan pengurusan dan bekalan air bersih di Sabah. Satu perkara yang jelas ialah di Kota Belud masalah  perkhidmatan bekalan air bersih di daerah ini yang semakin kritikal ekoran musim kemarau yang berpanjangan. Segelintir penduduk berpendapat bahawa penswastaan merupakan kaedah terbaik bagi mengatasi masalah bekalan air bersih. Manakala sebahagian pula tidak bersetuju, sebaliknya ia ke arah merealisasikan hasrat untuk menjadikan air sebagai satu komoditi yang diuruskan oleh syarikat swasta, yang bertujuan untuk mengaut keuntungan. Namun, apa yang penting di sini ialah air merupakan keperluan asas bagi semua hidupan di muka bumi ini. Bekalan air bersih ini hendaklah mampu dinikmati oleh semua orang tidak kira status sosial atau di mana ia berada dengan mudah dan pada kadar yang berpatutan.


Umumnya negara kita merupakan sebuah negara yang kaya dengan sumber air. Menurut Kajian Sumber Air Kebangsaan, 97 peratus air mentah yang diproses untuk kegunaan domestik dan industri adalah daripada sumber air permukaan seperti air sungai.' Kalau kita teliti pula, peratus kependudukan yang menerima bekalan air bersih ini, satu kajian yang dilakukan oleh Buletin Kesihatan Masyarakat, dalam keluaran khasnya, menunjukkan bahawa pada tahun 1950-an, hanya 23 peratus sahaja anggota masyarakat yang menerima bekalan air bersih. Angka ini telah meningkat sehingga mencecah 51 peratus pada tahun 1970-an. Pada akhir tahun 1997, 96 peratus masyarakat bandar dan 86 peratus masyarakat luar bandar telah menerima bekalan air bersih. Satu lagi isu yang perlu diambil kira ialah penawaran dan permintaan bekalan air di negara kita. Kajian Sumber Air Kebangsaan turut menunjukkan bahawa permintaan air bagi sektor domestik, industri dan perparitan akan meningkat sebanyak 63 peratus, iaitu 10,833 juta kubik meter pada tahun 2000 kepada 17,675 juta kubik meter pada tahun 2050. Apa yang boleh kita simpulkan di sini ialah, walaupun negara kita mempunyai sumber air yang banyak tetapi ia tidak semestinya dapat menampung keperluan penduduk yang kian meningkat ini. 3 Matlamat Pembangunan Milenium, atau Millenium Development Goals yang diusahakan oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu, inginkan 191 negara, termasuk Malaysia yang menjadi anggota PBB ini agar dapat mencapai lapan objektif dalam tahun 2015 yang telah digariskan pada tahun 2010. Di antaranya ialah pembangunan lestari yang akan merangkumi isu-isu pemuliharaan dan pemeliharaan sumber semulajadi.



Berbalik kepada isu bekalan air bersih yang semakin kritikal di Kota Belud. Masalah bekalan air bersih di Kota Belud bukanlah isu baru di daerah ini, ianya samalah seperti masalah kesesakan lalu lintas dan lembu terbiar di Pekan Kota Belud yang merupakan permasalahan tuntas.

Berbagai kenyataan dan penerangan dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berkenaan mengenai isu ini. Ada pihak yang menyatakan bahawa loji lama dan loji baru di Bayayat tidak mempunyai sambungan selain tekanan air tidak cukup kuat dan andainya tekanan air dipertingkatkan dikhuatiri saluran paip akan pecah. Suatu kenyataan yang mungkin ada benarnya tetapi cukup mengelirukan!

Apakah dengan sekadar jawapan sedemikian sudah cukup untuk menjelaskan isu berkenaan setelah sekian lama permasalahan ini membelenggu rakyat di Kota Belud khasnya penduduk di kawasan perkampungan. Rakyat yang terhimpit dengan masalah kritikal bekalan keperluan asas ini bukanlah cuba untuk menidakkan segala penerangan/ jawapan daripada pihak-pihak yang berkenaan namun demikian Apakah dengan memberikan jawapan sedemikan sudah memadai? Jika inilah masalahnya, Apakah tidak ada jalan penyelesaian altenatif? Barangkali penyelesaian yang lebih baik dan ekonomik!

Mungkin ada yang berfikiran bahawa artikel  ini merupakan suatu pandangan sinis. Namun bagi saya, sebagai rakyat yang turut terlibat sama dengan permasalahan ini yang tahu akan betapa peritnya mendapatkan bekalan air bersih mengharapkan suatu jalan penyelesaian atau setidak-tidaknya pun cadangan yang menjurus ke arah penyelesaian bukannya hanya sekadar alasan yang asalkan logik untuk diterima akal fikiran.